Layanan Lainnya

Layanan Laboratorium Bahasa

Jajak Pendapat

Jenis kesenian yang saat sekarang ini banyak digemari masyarakat?
 

Pengadaan STSI

Pengumuman

Online Pengunjung

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday256
mod_vvisit_counterYesterday392
mod_vvisit_counterThis week2425
mod_vvisit_counterThis month9943
mod_vvisit_counterAll227829

Gallery Foto

Festival Teater Remaja III Jawa Barat Bandung Dance Festival 2010 Bandung Dance Festival 2010
Festival Teater Remaja III Jawa Barat
Category: Festival Teater Remaja III Jawa Barat
Bandung Dance Festival 2010
Category: Bandung Dance Festival 2010
Bandung Dance Festival 2010
Category: Bandung Dance Festival 2010

Jakarta Disorder
Written by Iin Rizky   
Friday, 24 October 2014
Goethe-Institut, bekerjasama dengan Prodi Film, STSI Bandung akan menayangkan sebuah film dokumenter „Jakarta Disorder“ karya sutradara Ascan Breuer dan Victor Jaschke.
 
Kamis, 23 Oktober 2014, pukul 14.00
Di STSI Bandung, Jl. Buah Batu 2012
Gratis!
Pemutaran akan dihadiri oleh para sutradara dan crew film.
 
Film Jakarta Disorder  bercerita tentang  dua orang perempuan pemberani di Jakarta yang memperjuangkan  partisipasi  masyarakat miskin di dalam sebuah negara yang baru saja memenangkan kebebasan. Pembangunan perumahan yang berkembang pesat  menyebabkan penggusuran kampong-kampung kumuh di tengah kota. Kedua perempuan ini memutuskan untuk berjuang  melawan ketidakadilan dan berjuang dengan jalan mereka sendiri  di Megacity Jakarta  dimana saat ini sedang berlangsung pemilihan presiden.

Dalam film Riding my Tiger, sutradara Ascan Breuer melakukan  pencarian roh seekor harimau yang telah menghantui rumah nenek moyangnya di Jawa.  Untuk menemukan roh  ini bukanlah hal yang mudah, karena harus dipanggil secara terhormat.  Beberapa cerita tentang itu telah berkembang, berwujud sebagai kakek dari keluarga tersebut, hantu lelaki tua yang  tinggal di kebun, pencuri dan sebagai pengrajin miskin. Hal itu juga mengingatkan kembali akan perlawanan melawan penjajah Belanda dan konflik yang terjadi selama perang dingin.

Inilah tema-tema yang digeluti oleh Ascan Breuer dalam film-filmnya: Bagaimana kaum terpinggirkan dan orang orang miskin bertahan di tengah tengah modernisasi yang berkembang dengan kecepatan tinggi meskipun mereka tidak berpartisipasi di dalamnya? Bagaimana mereka hidup dengan layak? kemungkinan apa yang mereka miliki untuk emansipasi mereka sendiri? Bagaimana mereka mengatur diri mereka sendiri? Dan apa peran tradisi dan mitos dalam satu masyarakat yang mendorong ke modernitas? Film-film Ascan juga sebuah pencarian akan akarnya di kampung halaman ibunya:Indonesia.
 
Sulastri Madjid
Asisten Program Budaya
Assistentin Kulturprogramm
 
Goethe-Institut Bandung
Jl. RE. Martadinata 48
Bandung 40115
Tel: +62 22 423 6440
 
 
 
Last Updated ( Friday, 24 October 2014 )
 
Pelantikan Rektor ISBI Bandung
Written by Iin Rizky   
Tuesday, 21 October 2014

SELAMAT & SUKSES
KEPADA DR. HJ. EEN HERDIANI, S.SEN., M. HUM
SEBAGAI
REKTOR INSTITUT SENI BUDAYA INDONESIA (ISBI) BANDUNG
DILANTIK OLEH MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PADA TANGGAL 14 OKTOBER 2014
BERTEMPAT DI GEDUNG D KEMENDIKBUD

Image 

Last Updated ( Tuesday, 21 October 2014 )
 
Tari Kelangan dari ISBI Bandung Memukau Penonton dalam Festival Kebudayaan & Pameran Edukatif
Written by Iin Rizky   
Tuesday, 21 October 2014

Tari Kelangan dari  ISBI Bandung Memukau Penonton dalam Festival Kebudayaan & Pameran Edukatif untuk Perdamaian

Image 

Minggu, 12 Oktober 2012 Istora Senayan Jakarta gegap gempita dengan hadirnya ribuan orang menghadiri Festival Kebudayaan dan Pameran Edukatif untuk perdamaian yang diselenggarakan oleh Soka Gakkai Indonesia. Delapan belas sajian kesenian yang dikemas apik dalam waktu satu jam setengah itu menimbulkan kekaguman seluruh penonton yang hadir. Delegasi Institut Seni Indonesia Bandung yang berkesempatan menampilkan “Tari Kelangan” yang disajikan oleh empat puluh oreng penari mendapat sambutan meriah dari penonton. Koreografi yang disusun  oleh Prof. Dr. Endang Caturwati, S.S.T., M.S dan komposisi musiknya yang digarap Dr. M. Yusuf Wiradiredja, S.Kar. M.Hum mengundang decak kagum hadirin. Termasuk para menteri yang hadir. Gerakan dinamis yang diungkapkan ditunjang oleh busana yang ditata indah dengan warna kebaya ungu berenda perak yang dipadu sinjang warna putih berbalut batik menimbulkan kesan elegant. Tempat yang begitu luas terisi dengan pola lantai yang bervariasi.    Tarian ini tampil perdana setelah Institut Seni Indonesia Bandung diresmikan Presiden tanggal 6 Oktober 2014 beberapa waktu lalu. Selain ISBI Bandung tampil 17 kelompok seni yang lain yang terdiri dari Grup Pinkan Indonesia yang menyajikan music kolintang, Paduan suara Divisi Bapak dan Ibu Soka Gakkai Indonesia, Grup Angklung Bugenvil, Gerak Tari oleh Divisi anak, Tari Merak oleh Divisi Ibu, Tari Betawi oleh Lembaga Kebudayaan Betawi, Tari Kreasi Nusantara, Drama Tari dari Yogyakarta, Tari Nusantara oleh Soka Gakkai Bintan, Rampak Beduk yang diberi judul Genderang langit oleh Divisi pelajar, Dinamic Dance oleh Divisi Pemudi, Kumitaisho oleh Divisi Pemuda dan tari Kipas oleh Divisi Bapak.  Yang menarik adalah berbagai kelompok Soka Gakkai Indonesia dari berbagai daerah terlibat dalam sajian tersebut mulai dari anak yang peling muda berumur 5 tahun sampai kakek yang paling tua 72 tahun. 

Last Updated ( Tuesday, 21 October 2014 )
Read more...
 
Theater in Asia as A Power of Space
Written by Iin Rizky   
Monday, 20 October 2014
Image
Last Updated ( Tuesday, 21 October 2014 )
Read more...
 
TEMU KARYA MAHASISWA TELEVISI & FILM SE-INDONESIA (HELARAN KE-4)
Written by Iin Rizky   
Friday, 17 October 2014
TEMU KARYA MAHASISWA TELEVISI & FILM SE-INDONESIA (HELARAN KE-4)
 
Image 
 
PROLOGUE–The Powerful Mind o f This MULTI - EVENT Arrangement

Sudah lebih dari satu dekade, dunia film dan pertelevisian "sukses‟ membuktikan diri sebagai duet "raksasa‟ di Indonesia. Sejak awal periode 1990 hingga saat ini, kedua bidang tersebut sukses menyedot perhatian ratusan juta pemirsa se-antero negeri – hasil sebuah konsistensi berjangka waktu panjang . Dan pada zaman sekarang, berbagai tayangan TV dan film seakan berperan besar sebaga i urban - culture generator, yang sukses menstimulus pola pikir dan tingkah laku suatu masyarakat. Percaya atau tidak, mind-set dan gaya hidup masyarakat " awam‟ Indonesia saat ini, sedikit banyak terbentuk atas pengaruh tayangan-tayangan film dan TV . Hal ini berbanding lurus dengan munculnya kontroversi mengenai fungsi bidang ini. Beberapa stigma masyarakat mulai lahir, dan beranggapan bahwa tayangan produksi dalam negeri dianggap lack of quality, sedangkan tayangan produksi luar negeri dianggap cultural poisoning.

Last Updated ( Friday, 17 October 2014 )
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Results 1 - 5 of 82